Konflik antara Thailand vs Kamboja bukan hal baru sengketa perbatasan telah berlangsung puluhan tahun, terutama terkait garis perbatasan sejak masa kolonial.
Pohon konflik sering berpusar di sekitar area kuil kuno dan jalur perbatasan sensitif seperti sekitar wilayah Ta Moan Thom Temple dan beberapa area lain yang diklaim kedua negara. Meskipun sudah ada upaya mediasi dan perjanjian damai termasuk melalui mekanisme bilateral dan pembicaraan diplomatik namun ketegangan tetap terus memanas.
Eskalasi Terbaru Bentrokan, Serangan Udara, dan Krisis Kemanusiaan
Sejak pertengahan 2025, situasi mulai kembali memburuk. Bentrokan ringan berubah menjadi kekerasan serius: tentara dari kedua belah pihak saling serang, dan pada hari-hari terakhir terjadi serangan udara dengan jet tempur.
Dalam serangan terbaru, jet tempur milik Thailand dilaporkan membom sasaran militer di wilayah Kamboja sebagai respons terhadap dugaan mobilisasi senjata oleh pasukan Kamboja. Kekerasan ini menyebabkan jatuhnya korban sipil dan militer dari kedua pihak dengan jumlah korban tewas dan luka-luka cukup signifikan.
Akibat konflik, ribuan warga di daerah perbatasan terpaksa mengungsi, meninggalkan rumah dan mencari perlindungan di tempat yang lebih aman. Tak hanya aspek kemanusiaan konflik ini juga berdampak besar pada ekonomi lokal: perdagangan lintas perbatasan nyaris berhenti, banyak pekerja migran terimbas, serta sektor pariwisata dan logistik menjadi lumpuh.
Mengapa Konflik Sulit Diselesaikan
-
Garis perbatasan yang ambigu: Garis perbatasan yang dibuat di masa kolonial tidak dipetakan dengan jelas, menyebabkan klaim tumpang tindih dari kedua negara.
-
Situs budaya & sejarah sensitif: Beberapa kuil dan situs warisan lama menjadi sumber sengketa karena memiliki nilai historis dan simbolik bagi masing‑masing negara.
-
Militerisasi & aksi balas: Kedua negara telah memperkuat pos militer di perbatasan. Setiap insiden kecil bisa memicu eskalasi besar.
-
Diplomasi terbatas dan ketidakpercayaan: Upaya penyelesaian lewat jalur diplomatik terus mengalami kebuntuan. Ketidakpercayaan dan tuduhan saling menyerang membuat negosiasi sulit.
Dampak bagi Warga & Kawasan Sekitar
Konflik ini tidak hanya mempengaruhi militer dan diplomasi, tetapi juga kehidupan sehari-hari warga di perbatasan:
-
Puluhan ribu warga menjadi pengungsi internal, kehilangan tempat tinggal dan sumber mata pencaharian.
-
Perdagangan antar negara terganggu — banyak pedagang, pekerja migran, dan usaha kecil di perbatasan menjadi korban.
-
Ketidakpastian keamanan membuat wilayah perbatasan jadi zona “merah”: sekolah ditutup, pergerakan dibatasi, dan akses layanan publik terganggu.
-
Krisis kemanusiaan: korban sipil, kekhawatiran ranjau darat lama yang belum dinetralisir, serta trauma psikologis bagi warga yang terkena dampak perang.
Peluang dan Harapan: Solusi yang Perlu Diperjuangkan
Meskipun situasinya sangat genting, ada sejumlah langkah yang bisa ditempuh agar konflik tidak meluas dan warga tak terus menderita:
-
Dialog diplomatik dan keterlibatan pihak ketiga — meskipun jalur bilateral sulit, mediasi internasional atau melalui organisasi kawasan dapat membantu mendorong perdamaian.
-
Penetapan perbatasan yang jelas melalui demarkasi ulang dan pemetaan bersama dengan pengawasan netral.
-
Deklarasi zona demiliterisasi dan penarikan senjata berat dari garis perbatasan.
-
Perlindungan warga sipil & bantuan kemanusiaan — penyediaan pengungsi, rehabilitasi rumah, dan jaminan keamanan jangka panjang.
Kesimpulan
Konflik antar Thailand dan Kamboja kembali menunjukkan betapa rapuhnya perdamaian di kawasan yang punya sejarah panjang perselisihan perbatasan. Sengketa wilayah dan klaim atas situs budaya, ditambah militerisasi, telah menyebabkan kerusakan besar — bukan hanya material, tetapi juga kemanusiaan.
Bagi warga di pesisir perbatasan, hidup mereka berubah drastis: dari damai dan normal menjadi dipenuhi kecemasan, pengungsian, dan kehilangan.
Penting bagi komunitas internasional, serta negara‑negara di kawasan, untuk ikut mendorong rekonsiliasi, perlindungan warga sipil, dan penyelesaian jangka panjang agar tragedi kemanusiaan tak terus terulang.
